Sudah beberapa tahun rupanya, malah mungkin lebih dari yang kuperkirakan. Aku menjadi jiwa yang lain, menari diatas tangisan, bersembunyi ditengah keriangan.
Kemana angin ini akan membawa aku ? Sepertinya atom yang sangat kecil saja kalah dengan masa jenisku. Sampai-sampai aku harus dibawa angin pergi sangat cepat dan jauh.
Wahai Peri, mungkinkah aku menjadi seorang pengkhayal hingga aku mati nanti ? kutuk aku menjadi seorang pemimpi. Tongkatmu itu akan bermanfaat bagiku, sayapmu akan membawa aku ke tempat dimana aku harus ada.
Hanya sesal, dan aku telat menyadari. Aku terisak menangis lagi dan lagi. Karena sekarang aku berada di lorong sangat panjang dan pengap. Aku harus mencari pintu keluar atau setidaknya ventilasi udara. Agar aku bisa bernafas lagi.
Tapi, aku tidak mencarinya. Malah aku terbuai, ingin berlama-lama dalam lorong itu. Menikmati indahnya kegelapan, kesesakan, ketakutan dan kesepian. Ternyata, peri itu tidak mengabulkan permintaanku. Yang ada, dia menemaniku, disampingku, menikamati setiap khayalan itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar