Sabtu, 31 Oktober 2009

Deeply

Terukir semuanya, Sabtu ini telah menjadi saksi. Saksi bisu yang menggelitik hingga tawaku terpecah belah. Hatiku meleleh seperti es batu yang disiram air hangat. Cairkan suasana hingga aku hanya termenung dibalik celah-celah mimpiku. Mimpi yang sangat aku inginkan, dengan cara apapun, siapapun, aku yakin aku akan senang jika mimpi itu terwujud. Dan bukan hanya tentang mimpi. Makhluk Tuhan itu telah memberiku isyarat. Isyarat yang tidak cukup untuk satu kali dimengerti tapi aku yakin apa yang aku rasakan itu benar. Benar adanya.

Sekuntum bunga itu, gitar itu, nyayian itu. Beruntung. Dia beruntung, mempunyai sesuatu yang istimewa dalam hidupnya. Kejutan besar yang sangat berarti dan mungkin tidak akan terluapakan. Besyukurlah akhirnya semua itu datang pada hari ini. Kebahagiaan itu datang, dan haruskah melepaskannya kembali ? Jawabannya ada di hati. Dan menurut aku, kebahagiaan itu harus dipeluk erat hingga tidak pergi lagi.

Dan cerita tentang mereka. Mereka tak tergantikan, hinga aku besar nanti. Jarak dapat memisahkan kita hingga seperti matahari pada waktu aphelium. Tapi aku sangat berharap batin kita tetap kuat seperti gravitas otak manusia. Aku menginginkan mereka. Dengan sangat hormat aku berbicara dengan hati. Jujur, ini tidak seberapa. Aku ingin melebihi batas fungsional, menjadi karya, terukir bebas di alam.

Tidak ada komentar: